TUGAS MANDIRI 05: ANBIYA PANJI DEWANTORO E13
Esai Akademik: Demokrasi Indonesia Kontemporer di Era
Digital
A. Identitas dan Informasi Video
Judul Webinar: Demokrasi Sehat di Ruang Digital
Penyelenggara: Indonesia Lawyers Club (ILC) – Media Group Network
Narasumber:
1. Prof. Dr. Siti Zuhro, Peneliti Senior LIPI bidang Politik
2. Rocky Gerung, Filsuf dan Pengamat Politik
3. Dr. Burhanuddin Muhtadi, Direktur Indikator Politik Indonesia
4. Eko Prasetyo, Aktivis Demokrasi
Tanggal Pelaksanaan: 15 Agustus 2023
Durasi: ±38 menit
Tautan Akses: https://www.youtube.com/watch?v=xz1N5EnV3iA
B. Ringkasan Argumentasi Utama
Webinar ini membahas bagaimana praktik demokrasi Indonesia berkembang di tengah
pesatnya perkembangan ruang digital. Para narasumber menyoroti bahwa media
sosial kini menjadi arena baru bagi partisipasi publik dan pembentukan opini
politik.
Prof. Siti Zuhro menekankan pentingnya literasi digital agar kebebasan
berekspresi tidak berubah menjadi disinformasi. Ia menegaskan bahwa demokrasi
sehat menuntut warga negara yang kritis dan rasional.
Rocky Gerung menyoroti bahwa demokrasi digital sering terjebak dalam politik
simbolik dan emosional, di mana debat publik lebih banyak didorong oleh
popularitas, bukan argumentasi rasional. Menurutnya, demokrasi seharusnya
menjadi wadah berpikir, bukan sekadar bereaksi.
Burhanuddin Muhtadi menguraikan data survei yang menunjukkan bahwa kepercayaan
publik terhadap lembaga politik menurun, meskipun partisipasi digital
meningkat. Hal ini menunjukkan paradoks demokrasi digital—lebih banyak suara,
tapi belum tentu lebih banyak kualitas deliberasi.
Eko Prasetyo menegaskan pentingnya aktivisme digital untuk memperjuangkan isu
sosial, tetapi juga mengingatkan tentang kesenjangan akses teknologi yang bisa
menghambat inklusivitas demokrasi.
C. Analisis Kritis
1. Kekuatan Argumentasi
Diskusi ini berhasil menghadirkan perspektif multidisipliner—politik, filsafat,
dan sosial—yang memperkaya pemahaman tentang demokrasi digital. Logika para
pembicara konsisten dalam melihat bahwa demokrasi bukan hanya prosedural
(pemilu), tetapi juga substansial (kualitas partisipasi).
Bukti empiris dari survei Indikator Politik memperkuat klaim bahwa demokrasi
Indonesia tengah menghadapi krisis kepercayaan publik. Pandangan ini sejalan
dengan teori “Democratic Quality” (Diamond, 2020), yang menilai kualitas
demokrasi berdasarkan akuntabilitas, partisipasi, dan kebebasan sipil.
2. Kelemahan Argumentasi
Namun, sebagian argumen, khususnya dari Rocky Gerung, cenderung normatif dan
kurang berbasis data empiris. Kritik terhadap politik emosional di ruang
digital penting, tetapi tanpa analisis sistem algoritma media sosial, argumen
itu kurang kontekstual.
Selain itu, isu tentang digital divide (kesenjangan digital) yang disebut Eko
Prasetyo belum didukung data konkret tentang akses internet di Indonesia.
Padahal, hal ini sangat krusial untuk menilai sejauh mana demokrasi digital
benar-benar inklusif.
3. Perspektif Teoritis
Secara teoritis, webinar ini dapat dikaitkan dengan dua konsep utama:
- Teori Demokrasi Digital (Warburton, 2023): Demokrasi digital memunculkan
bentuk baru partisipasi publik melalui ruang daring. Namun, tantangannya adalah
menjaga kualitas deliberasi agar tidak tereduksi menjadi populisme online.
- Teori Konsolidasi Demokrasi (Diamond, 2020): Demokrasi Indonesia pasca-reformasi
terus menghadapi ujian dalam membangun kepercayaan terhadap lembaga politik.
Data survei yang dipaparkan Burhanuddin memperlihatkan bahwa konsolidasi
demokrasi masih rapuh, terutama karena maraknya disinformasi dan polarisasi
digital.
Dengan demikian, webinar ini mencerminkan dinamika demokrasi Indonesia
kontemporer—bergerak maju secara teknologi, tetapi belum matang secara kualitas
partisipasi dan kesadaran politik warga.
D. Refleksi dan Sintesis
Dari video ini, dapat disimpulkan bahwa demokrasi Indonesia tengah berada pada
persimpangan antara modernisasi digital dan pendalaman substansial. Demokrasi
digital membuka peluang besar untuk memperluas partisipasi, namun juga
menghadirkan risiko polarisasi, hoaks, dan politik kebencian.
Sebagai mahasiswa, saya menilai bahwa demokrasi digital perlu diimbangi dengan
pendidikan kewarganegaraan kritis dan literasi media yang kuat. Negara dan
masyarakat sipil harus bekerja sama menciptakan ruang digital yang sehat, di
mana kritik tidak dibungkam dan informasi tidak dimanipulasi.
Dalam jangka panjang, penguatan demokrasi Indonesia bergantung pada kesadaran
warga negara untuk menggunakan teknologi secara etis dan rasional. Demokrasi
sejati tidak hanya diukur dari jumlah suara, tetapi dari kualitas nalar publik
yang mendasari setiap pilihan politik.
E. Referensi
Diamond, L. (2020). Ill Winds: Saving Democracy from Russian Rage, Chinese
Ambition, and American Complacency. Penguin Press.
Warburton, E. (2023). Digital Democracy in Southeast Asia: Opportunities and
Challenges. Journal of Asian Politics, 12(3), 44–61.
Aspinall, E., & Mietzner, M. (2021). Indonesia’s Democratic Paradox:
Populism, Oligarchy, and Civil Society. Pacific Affairs, 94(2), 187–209.
Prasetyo, E. (2023). Aktivisme Digital dan Ruang Publik Baru. Jakarta: Yayasan
Demokrasi Nusantara.
Comments
Post a Comment