TUGAS MANDIRI 14: ANBIYA PANJI DEWANTORO E13

 

Refleksi Integritas dan Kejujuran dalam Kehidupan Akademik dan Sosial

Pendahuluan

Integritas merupakan nilai moral yang mencerminkan keselarasan antara prinsip, sikap, dan tindakan seseorang dalam berbagai situasi. Kejujuran sebagai unsur utama integritas menjadi landasan penting dalam membangun kepercayaan, baik dalam lingkup akademik maupun sosial. Bagi mahasiswa, integritas tidak hanya berfungsi sebagai pedoman etis dalam menjalani proses pembelajaran, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter intelektual yang bertanggung jawab. Tanpa integritas, pencapaian akademik kehilangan legitimasi moral dan berpotensi menciptakan individu yang kompeten secara teknis, namun rapuh secara etis.

 

Dalam kehidupan akademik, kejujuran sering kali menghadapi berbagai tantangan yang bersumber dari tekanan akademik, persaingan, serta kemudahan akses terhadap informasi digital. Praktik plagiarisme, titip absen, maupun kerja sama yang tidak sah saat ujian merupakan contoh pelanggaran integritas yang kerap terjadi di lingkungan kampus. Fenomena tersebut sering kali dinormalisasi sebagai strategi bertahan dalam sistem akademik yang kompetitif. Padahal, tindakan-tindakan tersebut tidak hanya melanggar aturan institusional, tetapi juga mencederai tujuan utama pendidikan tinggi sebagai ruang pengembangan nalar kritis dan etika keilmuan.

 

Batang tubuh

Dalam pengalaman pribadi, terdapat situasi di mana integritas diuji secara nyata. Pada saat mengerjakan tugas akademik dengan keterbatasan waktu, muncul kecenderungan untuk menggunakan karya terdahulu sebagai jalan pintas penyelesaian tugas. Situasi tersebut menimbulkan dilema antara tuntutan pencapaian akademik dan komitmen terhadap kejujuran. Keputusan untuk tetap menyusun tugas secara mandiri, meskipun dengan hasil yang tidak sempurna, menjadi bentuk konkret penerapan integritas dalam praktik akademik. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kejujuran sering kali menuntut keberanian untuk menerima konsekuensi, namun sekaligus memberikan pembelajaran etis yang bernilai jangka panjang.

 

Pengabaian terhadap integritas di lingkungan kampus berpotensi menimbulkan dampak struktural. Ketika praktik ketidakjujuran dibiarkan atau bahkan ditoleransi, budaya akademik yang terbentuk cenderung permisif terhadap pelanggaran etika. Hal ini dapat menghasilkan lulusan yang terbiasa mengedepankan hasil tanpa mempertimbangkan proses, serta mengaburkan batas antara kecerdasan dan manipulasi. Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab strategis dalam menanamkan nilai integritas melalui regulasi yang tegas, sistem evaluasi yang adil, serta keteladanan dari civitas academica.

 

Tantangan integritas tidak hanya terbatas pada ruang akademik, tetapi juga tercermin secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks sosial yang lebih luas, integritas sering kali sulit ditegakkan karena adanya konflik antara nilai moral dan kepentingan pragmatis. Fenomena korupsi, misalnya, menunjukkan bagaimana penyalahgunaan kekuasaan menjadi praktik yang sistemik dan berulang. Korupsi tidak hanya mencerminkan kegagalan individu dalam menjaga kejujuran, tetapi juga lemahnya sistem pengawasan dan penegakan hukum yang seharusnya menjamin akuntabilitas publik.

 

Selain itu, maraknya penyebaran hoaks di ruang publik memperlihatkan krisis kejujuran dalam komunikasi sosial. Informasi yang tidak terverifikasi kerap disebarluaskan demi kepentingan politik, ekonomi, maupun pencitraan diri, tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan. Rendahnya literasi digital dan polarisasi opini publik semakin memperparah kondisi tersebut. Akibatnya, kepercayaan sosial mengalami erosi, sementara kejujuran menjadi nilai yang terpinggirkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

 

Dalam menghadapi realitas tersebut, integritas perlu dipahami sebagai komitmen personal sekaligus tanggung jawab sosial. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dan memasuki dunia profesional, upaya menjaga integritas harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah menjunjung tinggi kejujuran dalam pelaksanaan tugas profesional, termasuk menolak praktik manipulatif, pemalsuan data, maupun penyalahgunaan kewenangan. Sikap ini menjadi penting meskipun berpotensi menimbulkan risiko personal dalam jangka pendek.

 

Selain itu, integritas juga perlu diwujudkan melalui sikap transparansi, akuntabilitas, dan kesediaan untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil. Dalam lingkungan kerja, hal ini dapat diwujudkan melalui komunikasi yang jujur, kepatuhan terhadap kode etik profesi, serta keberanian untuk menyampaikan kebenaran secara konstruktif. Upaya menjaga integritas juga harus disertai dengan refleksi etis yang berkelanjutan, mengingat tantangan moral dapat muncul dalam berbagai bentuk dan situasi yang berbeda.

 

Kesimpulan

integritas dan kejujuran merupakan nilai fundamental yang menentukan kualitas individu dan tatanan sosial. Pengalaman di lingkungan akademik memberikan ruang reflektif untuk memahami bahwa integritas bukanlah prinsip abstrak, melainkan sikap yang diuji melalui pilihan-pilihan konkret. Tantangan integritas di kampus dan masyarakat menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat multidimensional dan memerlukan komitmen bersama. Namun demikian, perubahan dapat dimulai dari kesadaran individu. Dengan menjadikan integritas sebagai landasan dalam berpikir dan bertindak, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi secara positif sebagai insan akademik dan warga negara yang bertanggung jawab.

Comments

Popular posts from this blog

TUGAS TERSTRUKTUR 01

TUGAS TERSTRUKTUR 02 : ANBIYA PANJI DEWANTORO E13

TUGAS MANDIRI 02 : ANBIYA PANJI DEWANTORO E13